Tuban,atasangin.net – Kreativitas masyarakat Desa Beji, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, menembus panggung Kabupaten Tuban melalui keikutsertaannya dalam Tuban Specta Night Carnival (TSNC) 2026. Desa Beji menjadi satu-satunya desa yang tampil dalam gelaran carnival tersebut.
Keikutsertaan Desa Beji membawa cerita rakyat lokal “Rondho Kuning Sendang Jomblang”. Kisah tersebut dikemas dalam pertunjukan kolosal yang melibatkan warga asli Desa Beji dari berbagai kalangan.
Kepala Desa Beji, Zainul Arifin, mengatakan keikutsertaan dalam TSNC 2026 berawal dari keinginan untuk turut memeriahkan event kabupaten sekaligus membawa kreativitas masyarakat Beji ke panggung yang lebih luas.
“ Selama ini kreativitas masyarakat Beji lebih banyak sebatas tampil di tingkat desa atau kecamatan. Karena itu, kami ingin berpartisipasi dan menyemarakkan TSNC Tuban 2026,” ujarnya kepada Reporter tubankab minggu (29/8).
Awalnya, kata Zainul, pihak desa hanya berkeinginan memberikan partisipasi terbaik dalam memeriahkan acara. Namun setelah mengetahui bahwa Beji menjadi satu-satunya desa yang ikut dalam TSNC, semangat untuk memberikan penampilan terbaik semakin kuat.
Menurutnya, penampilan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai hiburan dan bagian dari kemeriahan carnival, tetapi juga diharapkan dapat menginspirasi desa-desa lain untuk berani menampilkan potensi dan kreativitas masyarakatnya pada event di tingkat kabupaten.
“ Pertama tentu bernilai hiburan dan semarak. Kedua, semoga bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya agar turut serta menyemarakkan event kabupaten yang akbar seperti ini,” tuturnya.
Persiapan penampilan dilakukan melalui proses yang cukup panjang. Ketua Panitia Karnaval Desa Beji, Jamilatun Nikmah, menjelaskan persiapan dimulai dari pembentukan kepanitiaan, penyusunan konsep, pembagian tugas, persiapan kostum dan properti, hingga latihan serta gladi bersama.
Menariknya, persiapan tidak hanya melibatkan peserta yang tampil. Anak-anak, remaja, orang tua, tokoh masyarakat, pelaku seni hingga pemuda turut mengambil bagian.
“ Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama. Ada yang membantu membuat properti, menyiapkan kostum, mendukung konsumsi, mengatur peserta, hingga membantu kelancaran teknis di lapangan,” jelasnya.
Ia menyebut tantangan terbesar adalah menyatukan waktu, tenaga dan ide dari banyak warga yang memiliki kesibukan masing-masing. Selain itu, seluruh konsep harus dipastikan dapat diwujudkan dengan baik, mulai dari kostum, properti, koreografi hingga kekompakan peserta.
Namun, berbagai kendala tersebut justru menjadi bagian dari proses yang memperkuat kebersamaan warga.
“ Bagi kami, yang terpenting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga bagaimana proses persiapan ini mampu mempererat silaturahmi dan membangun rasa memiliki masyarakat terhadap Desa Beji,” katanya.
Sementara itu, Sutradara penampilan, Fatkhul Niam, mengatakan pemilihan cerita “Rondho Kuning Sendang Jomblang” menjadi upaya memperkenalkan budaya dan potensi lokal Desa Beji kepada masyarakat yang lebih luas.
“ Harapannya ini bisa menjadi promosi budaya dan potensi lokal yang ada di Desa Beji. Kami kemas sebaik mungkin dengan seluruh pemeran merupakan warga asli Beji,” ujarnya.
Cerita tersebut mengangkat sosok Nyai Rondho Kuning sebagai perempuan yang tangguh, mandiri dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi ujian kehidupan.
Salah satu adegan yang menjadi bagian menarik dalam pertunjukan adalah ketika dua pangeran berusaha mempersunting Nyai Rondho Kuning. Penolakan tersebut kemudian memicu pertikaian hingga Nyai Rondho Kuning memilih berlari dan menepi ke Sendang Suci Jomblang.
Ketika kedua pangeran berusaha memasuki sendang, mereka mendapat perlawanan dari siluman ular dan “begejil” penunggu sendang.
Ni’am mengatakan, perpaduan cerita lokal, kreativitas, kostum, properti dan kekompakan warga menjadi keunikan penampilan Beji. Lebih dari sekadar pertunjukan, seluruh unsur tersebut menjadi representasi identitas masyarakat Desa Beji.
Kepala Desa Beji berharap momentum TSNC 2026 dapat menjadi pelecut semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mengasah bakat dan kreativitas generasi muda serta masyarakat, khususnya dalam bidang seni dan budaya.
“ Semoga momen ini menjadi semangat dan pelecut kebersamaan serta gotong royong warga Desa Beji. Semoga juga menjadi ajang mengasah bakat dan kreativitas pemuda dan masyarakat, terlebih ada anak-anak yang turut tampil dalam bidang seni dan budaya,” pungkasnya. [ gus ]












